Hukum Sembelihan Yang Tidak Jelas


Fatwa-Fatwa
Asy Syaikh Muhammad Ibnu Ibrahim Alu Asy Syaikh
 يشترط في القصاب فاضل الدين أَن يكون مسلمًا، صحيح المعتقد ينكر الخرافات كعبادة القبور وغيرها مما يعبد من دون الله، وينكر جميع المعتقدات والبدع الكفرية: كمعتقد القاديانية، والرافضة الوثنية، وغيرها. ولا يكتفى في حل ذبيحته بمجرد الانتساب إلى الإسلام والنطق بالشهادتين وفعل الصلاة وغيرها من أَركان الإسلام مع عدم الشروط التي ذكرناها، فإن كثيرًا من الناس ينتسبون إلى الإسلام وينطقون بالشهادتين ويؤدون أَركان الإسلام الظاهرة ولا يكتفى بذلك في الحكم بإسلامهم ولا تحل ذكاتهم لشركهم بالله في العبادة بدعاء الأَنبياء والصالحين والاستغاثة بهم وغير ذلك من أَسباب الردة عن الإسلام. وهذا التفريق بين المنتسبين إلى الإسلام أَمر معلوم بالأَدلة من الكتاب والسنة وإجماع سلف الأمة وأَئمتها.
ثم ما ذكرنا من الأمور المطلوبة في هذا القصاب يعتبر في ثبوتها نقل عدل ثقة يعلم حقيقة ذلك من هذا الرجل، وينقله الثقة عن هذا العدل حتى يصل إلى من يثبت لديه ذلك حكمًا ممن يعتمد على ثبوته عنده شرعًا.
“Disyaratkan pada diri si penyembelih: Baik agamanya, seorang muslim yang benar aqidahnyamengingkari khurafat-khurafat seperti ibadah kepada kuburan dan segala sesuatu yang diseru selain Allah, dan diamengingkari segala macam keyakinan dan bid’ah-bid’ah yang sifatnya kekafiran seperti keyakinan Qadiyaniyah, Rafidlah watsaniyyah dan yang lainnya. Dan tidak cukup dalam kehalalan sembelihannya sekedar dia itu intishab kepada Islam (mengaku muslim), mengucapkan dua kalimah syahadat, dan melaksanakan shalat serta rukun-rukun Islam yang lainnya, bila syarat yang kami sebutkan tadi tidak ada, karena banyak sekali manusia di mana mereka itu mengaku Islam, mengucapkan dua kalimah syahadat dan melaksanakan rukun-rukun Islam yang dhahir (nampak), dan dengan itu semua tidak cukup untuk menghukumi akan keislaman mereka, dan tidak halal sembelihannya karena mereka itu menyekutukan Allah dalam ibadah dengan berupa menyeru para nabi dan orang-orang shallih serta beristighatsah kepada mereka, juga amalan-amalan yang lainnya yang merupakan penyebab kemurtaddan dari Islam. Dan pemilahan antara orang-orang yang mengaku Islam ini adalah suatu yang maklum (diketahui) dengan dalil-dalil dari Al kitab, As Sunnah dan Ijma salaful ummah serta para imamnya.
Kemudian syarat-syarat yang telah kami sebutkan dalam hal si penyembelih ini, dalam penetapannya harus diperhatikan berita orang yang adil lagi tsiqah yang mengetahui hakikat hal itu dari si laki-laki tersebut, kemudian ia dinukil lagi dari orang yang adil itu orang yang tsiqah hingga sampai pada orang yang secara hukum hal itu menjadi tsabit di sisinya dari kalangan orang yang bisa dipercaya secara syari’at”[1]
Beliau rahimahullah berkata lagi:
في هذه الأزمان وقبلها بأزمان يدعى العلم ضخام العمائم الذين يدعون أنهم حفاظ الدين على الأمة وأنهم وأنهم… و أبو جهل أعلم منهم ، فإنه يعلم معنى لا إله إلا الله وهم لا يعرفونه . والجهل درجات فبه تعرف قدر الذين أبو جهل أعلم منهم, وقبل الكلام المذكور بالصحيفة المذكورة قال : وأظنهم لا يكفرون إلا من نص القرآن على كفره كفر عون والنصوص لا تجيء بتعيين كل أحد, يدرس باب حكم المرتد ولايطبق على أحد و هذه ضلالة عمياء و جهالة كبرى ثم الذين توقفوا في تكفير المعين في الأشياء التي قد يخفى دليلها فلا يكفر حتى تقوم عليه الحجة الرسالية من حيث الثبوت والدلالة، فإذا أوضحت له الحجة بالبيان الكافي كفر، سواء فهم أو قال ما فهمت
“Pada zaman-zaman sekarang ini dan zaman-zaman sebelumnya mengklaim berilmu orang-orang yang bersurban besar yang mengklaim bahwa mereka ini adalah para penjaga agama ini atas umat, dan bahwa mereka adalah ini dan itu… sedangkan Abu Jahal adalah lebih pintar daripada mereka, sesungguhnya Abu Jahal mengetahui makna Laa ilaaha illallaah sedangkan mereka tidak mengatahuinya. Kejahilan itu bertingkat-tingkat, dengannya bisa diketahui kadar orang-orang yang dimana Abu Jahal lebih pintar daripada mereka. Dan sebelum perkataan tersebut pada halaman ini juga dia (maksudnya musuh dakwah tauhid, pent) berkata: Dan saya kira mereka itu tidak mengkafirkan kecuali orang yang sudah ditegaskan akan kekufuran oleh Al Qur’an seperti Fir’aun, sedangkannshuuhs (teks-teks Al Qur’an dan As Sunnah) tidak datang menta’yin semua orang”. (Tanggapan): Dia mempelajari bab hukum orang murtad, namun tidak menerapkannya kepada seorangpun, dan ini adalah kesesatan yang buta dan kejahilan yang paling besar, kemudian orang-orang (para ulama) yang tawaquf dalam takfir mu’ayyan (mengkafirkan orangnya langsung) itu hanya dalam masalah-masalah yang terkadang dalilnya samar, sehingga pelakunya tidak dikafirkan sampai ditegakkan atasnya hujjah dari sisi tsubut(keberadaannya) dan dilalah (penunjukannya), kemudia bila hujjah telah dijelaskan kepada dia dengan penjelasan yang cukup maka dia itu kafir (bila bersikeras) baik dia itu paham ataupun dia mengatakan: Saya tidak paham”[2]
Beliau rahimahullah berkata lagi:
الذي يواجه الله ولا عرف التوحيد  أو عرفه ولم يعمل به، أنه خالد في النار، ولو كان من أعبد الناس، ‏كما قال تعالى: ( إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ )
“Orang yang beribadah kepada Allah namun tidak mengetahui tauhid atau dia itu mengetahui tauhid namun tidak mengamalkannya, maka dia itu kekal di neraka meskipun dia itu orang yang paling rajin ibadah, berdasarkan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala: “Sesungguhnya orang yang mepersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka”[3]
Beliau rahimahullah berkata lagi:
ومانجا من يشرك هذا الشرك الأكبر الا من عادى المشركين. يبين لك أن ألإسلام لا يستقيم إلا بمعاداة إهل هذا الشرك فإن لم يعادهم فهو منهم وإن لم يفعله.
“Dan tidak bisa selamat dari kemusyrikan syirik besar ini kecuali orang yang memusuhi orang-orang musyrik. (Perkataan ini) memberikan penjelasan kepada engkau bahwa Islam itu tidak bisa tegak (degan benar) kecuali dengan memusuhi pelaku-pelaku syirik itu, dan bila tidak memusuhi mereka maka dia itu tergolong mereka meskipun tidak melakukan syirik itu”[4]
Beliau rahimahullah berkata lagi:
المسألة الحادية عشر: رجل دخل هذا الذين و أحبه ولكن لا يعادي المشركين، أو عاداهم ولم يكفرهم، أو قال: أنا مسلم ولكن لا اقدرأن  أكفر أهل لا إله إلا الله، ولو لم يعرفوا معناها  ورجل دخل هذا الدين وأحبه، ولكن يقول: لا أتعرض القباب وأعلم أنها لا تنفع ولا تضر ولكن ما أتعرض لها ؟
الجواب: أن الرجل لا يكون مسلما إلا إذا عرف التوحيد، ودان به، وعمل بموجبه، وصدق الرسول صلى الله عليه وسلم فيما أجبر به وآمن به وبما جاء به. فمن قال لا أعادي المشركين أو عاداهم ولم يكفرهم، أو قال: لا أتعرض أهل لا إله إلا الله، ولو فعلوا الكفر والشرك، وعادوا دين الله، أو قال: لا أتعرض للقباب، فهذا لا يكون مسلما، بل هو ممن قال الله فيهم: {ويقولون نؤمن ببعض ونكفر ببعض ويريدون أن يتخذوا بين ذلك سبيلا. أولئك هم الكافرون حقا.
والله سبحانه وتعالى: أوجب معاداة المشركين ومنابذتهم، وتكفيرهم، فقال: لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوآدون من حآد الله ورسوله .  الآية.
وقال تعالى : يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق يخرجون الرسول  وإياكم أن تؤمنوا باالله ربكم.  الآيات. انتهى.
Pertanyaan kesebelas: Laki-laki masuk agama Islam ini dan mencintainya, namun dia tidak memusuhi orang-orang musyrik, atau dia itu memusuhinya namun tidak mengkafirkan mereka, atau dia berkata: “Saya muslim namun saya tidak bisa mengkafirkan orang-orang yang mengatakan Laa ilaaha illallaah meskipun mereka itu tidak mengatahui maknanya”, dan laki-laki lain masuk Islam ini dan ia pun mencintai agama ini, namun ia berkata:“Saya tidak menggangu kubah-kubah itu (maksudnya kubah-kubah di atas kuburan tempat orang-orang meminta-minta, Pent) dan saya mengetahui bahwa kubah-kubah itu tidak mendatangkan manfaat maupun madlarat, namun saya tidak mau menggangunya”?
Syaikh menjawab: Sesungguhnya laki-laki itu tidaklah menjadi orang Islam kecuali bila dia mengetahui tauhid, tunduk/meyakininya, mengamalkan tuntutannya, membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa yang beliau kabarkan, mentaatinya dalam larangan dan perintahnya, dan beriman kepadanya dan kepada apa yang beliau bawa, maka siapa orangnya mengatakan saya tidak memusuhi orang-orang musyrik atau dia itu memusuhi namun tidak mengkafirkannya atau dia itu mengatakan saya tidak akan mengganggu orang-orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah meskipun mereka itu melakukan kekufuran dan kemusyrikan serta memusuhi agama Allah atau dia mengatakan saya tidak akan menggangu kubah-kubah itu, maka orang semacam ini tidaklah dianggap sebagai orang muslim, bahkan dia justeru tergolong orang-orang yang difirmankan AllahSubhanahu Wa Ta’ala“Kami beriman kepada sebagian dan kafir kepada sebagian (yang lain)” serta beraksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian itu (iman dan kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mewajibkan memusuhi orang-orang musyrik, menjauhinya, dan mengkafirkannya. Dia berfirman: “Kami tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhkirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya”. Dan befirman: “Hai orang-orang yang beriman, jangalah kamu mengambil musuhku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karehna rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu”[5]

من فتاوى الشيج محمد بن إبراهيم

Alih Bahasa:
Abu Sulaiman Aman Abdurrahman

[1] Juz 1 Hal: 206 Bab Sembelihan 3939 – si penyembelih harus benar aqidahnya 20/5/1374 H
[2] Fatawa Asy Syaikh Muhaad Ibnu Ibrahim 1/84 Ibnu Qasim
[3] Ad Durar As Saniyyah hal: 40 cetakan: II Tab’ah Faishal jilid: I, juz: II
[4] Ibid hal: 214 dalam jilid yang sama
[5] Bab murtad juz delapan hal: 111, 112.
Share on Google Plus

-

-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Baca Juga