Apakah Sikap Mudahanah Terhadap Anshar Thaghut Sampai Kepada Kekafiran?


Asy Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisiy
Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Wa ba’du:
Saya bekerja sebagai pembantu sopir (kernet) truk, dan saat di jalan kami bertemu dengan ansharut thawaagith (aparat pembela para thagut) atau yang mereka namakan polantas (polisi lalu lintas), terus mereka menghentikan truk (kami) dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada si sopir, kemudian si sopir memberikan sejumlah uang kepada mereka sebagai risywah (sogokan) agar mereka tidak mempersulit urusannya, akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah bahwa si sopir saat meninggalkan mereka ia berdo’a, dengan murka seraya ia berkata: “ya Allah bantulah” ia berdo’a bersama mereka dengan doa minta pertolongan (kepada Allah) yang kadang ia memanggil mereka dengan “tuan/sayyid” serta mengucapkan salam kepada mereka, jadi apa hukum sopir ini? Dan apa hukum saya yang selalu bekerja bersama dia? Di mana saya duduk bersamanya di dalam truk saat ia melontarkan ucapan itu padahal Allah ‘Azza wa ‘Jalla berfirman:
Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (An-Nisa: 140)
Oleh sebab itu berilah kami faidah ilmu semoga Allah membalas kebaikan buat antum dan dengan rinci serta dengan dalil-dalil syar’iy sebagaimana yang biasa kami dapatkan dari antum.
wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Jawab:
Akhil fadlil: Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Berhubungan dengan apa yang diberikan kepada ansharuththawaghith dan kaki tangan orang-orang durjana dalam rangka melepaskan diri dari kedzaliman mereka dan dalam rangka menolak kejahatan mereka maka itu bukanlah risywah (sogokan) yang diharapkan atas sipemberinya meskipun itu adalah suth (barang haram) bagi orang-orang yang memakannya diantara mereka.
Adapun mudarah (sikap lembut) si sopir terhadap mereka karena takut dari keburukan / kejahatan mereka dengan ucapannya “ya Allah, bantulah” maka saya menilai tidak apa-apa di dalamnya, karena saya tidak memahami darinya do’a yang tegas bagi mereka.
Adapun kalau yang dikatakan itu adalah “ya Allah bantulah mereka” maka hal itu tidak halal bagi dia, karena itu adalah mudahanah darinya dan do’a bagi mereka agar dibantu untuk melakukan kedzaliman mereka dan untuk memakan harta manusia (dengan bathil), sedangkan ini adalah diharamkan yang tidak boleh membantunya dan tidak boleh pula mendoakan bantuan (bagi mereka) atasnya.
Dan memanggil mereka dengan sebutan “tuan/sayyid” adalah tidak boleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya tentang orang semisal dia, beliau berkata: “janganlah kalian menyatakan “tuan kami” terhadap munafik, karena sesungguhnya bila dia itu tuan kalian, maka kalian telah membuat murka tuhan kalian” jadi ini tergolong mudahanah yang diharamkan yang sering dilakukan oleh banyak manusia pada zaman kita ini tanpa darurat karena takut terhadap mereka atas mata pencahariannya dan khawatir atas dunianya” padahal Allah-lah yang lebih berhak kamu takut terhadap-Nya bila kamu benar-benar orang-orang yang beriman”.
Padahal orang muslim itu bangga dengan keislamannya dan kuat dengan keimananya yang tidak layak baginya menghinakan dirinya atau memberikan kehinaan dalam diennya demi kehidupan yang sepele lagi fana
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada Mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 8)
Namun demikian sesungguhnya mudahanah ini tidak sampai kepada kekafiran dan kewajibanmu menasehati sopir ini, mengajarinya dan mengingkarinya dengan cara yang lebih baik, bila kamu melakukan itu dan diterima maka alhamdulillah, dan bila tidak menerima maka engkau harus meninggalkannya, mudah-mudahan Allah mencukupkanmu dari karunia-Nya, karena orang itu di atas ajaran temannya. Bila engkau tidak mempengaruhi dia dan mengembalikannya kepada al haq dengan cara baik maka saya khawatir engkau terpengaruh dengan kebathilannya. Maka saya berharap kamu meninggalkan pekerjaan ini selama temanmu itu bersikeras di atas sikap ini, kecuali bila engkau dalam kondisi darurat untuk menemani dia dalam pekerjaan ini, dan kamu meninggalkan dia itu menimbulkan kesempitan dan kesulitan, maka tidak apa tetap menemaninya dengan terus menasehati dan mengingatkannya selama tidak muncul dari dirimu apa yang muncul dari dia.
Saya memohon kepada Allah ta’ala agar Ia mengilhamkan kepadamu kelurusanmu dan memudahkan bagimu urusanmu.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para seluruh sahabatnya.
Saudaramu
Abu Muhammad
Penterjemah berkata: Selesai, Sabtu 5 Ramadhan 1426 H (LP Karawang B III 6)
Share on Google Plus

-

-
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment

Baca Juga